“Aksara iku gaweane rasa, yen rasa ilang, aksara dadi sepi.”
(Aksara adalah karya dari rasa; bila rasa hilang, aksara menjadi hampa.)
Yogyakarta, Chanelindonesia – Dalam kebudayaan Jawa dan Nusantara, aksara bukan sekadar tanda bunyi, melainkan jejak kesadaran. Ia adalah warisan yang mengandung jiwa, nilai, dan tata batin peradaban. Ketika huruf-huruf kuno itu ditulis, yang diabadikan bukan hanya kata, melainkan rasa, energi pengetahuan yang mengalir dari jagad rasa menuju jagad laku.
Supriyadi memandang pendidikan budaya bukan sekadar upaya pelestarian bentuk, tetapi pengembalian makna, upaya untuk membangunkan ingatan yang lama tertidur di dalam diri bangsa. Melalui Pawiyatan Taman Sesaji Nusantara dan Taman Aksara Nusantara Triguna, ia menanamkan pandangan bahwa belajar adalah laku spiritual: proses menyadari, bukan sekadar mengetahui.
“Sinau iku dudu mung maca, nanging nyinau urip.”
(Belajar bukan sekadar membaca, tetapi memahami kehidupan.)
Dalam dunia modern yang menyanjung kecepatan dan efisiensi, pendidikan sering terlepas dari akar kesadaran. Anak-anak diajar berpikir, tapi lupa bagaimana merasa. Padahal dalam pandangan tradisi Nusantara, pengetahuan sejati lahir dari keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa. Ketika pendidikan kehilangan rasa, yang tersisa hanyalah penghafalan tanpa penghayatan, tubuh tanpa jiwa, aksara tanpa makna.
Dari sinilah lahir gagasan Supriyadi tentang Pawiyatan, bukan sekadar sekolah, melainkan ruang persemayaman nilai. Ia menghidupkan kembali semangat “padhang mbulan” dalam pendidikan, yaitu terang yang menumbuhkan, bukan membakar. Di taman ini, tradisi dan spiritualitas tidak diposisikan sebagai masa lalu, melainkan sebagai cahaya yang menuntun masa depan kesadaran bangsa.
“Urip iku ngudi kasampurnan, dudu mung kamulyan.”
(Hidup adalah upaya menuju kesempurnaan, bukan sekadar kemuliaan.)
Dalam konteks akademik kontemporer, gagasan Supriyadi dapat dibaca melalui pendekatan holistic education dan eco-pedagogy, yang menempatkan pendidikan sebagai proses transformasi kesadaran, bukan sekadar transfer ilmu. Paradigma ini melihat manusia sebagai bagian integral dari kosmos (a living system) di mana pembelajaran terjadi melalui keterhubungan antara tubuh, pikiran, dan alam.
Taman Sesaji Nusantara menjadi ruang praksis kesadaran: tempat ritual, dialog, dan seni berpadu sebagai jalan pembentukan karakter. “Sesaji” dalam konteks ini bukanlah persembahan mistik, melainkan tindakan sadar untuk memuliakan kehidupan. Setiap kegiatan, dari menulis aksara hingga menanam pohon, adalah bentuk doa — doa yang hidup dalam tindakan.
“Sapa ngerti aksara urip, bakal bisa maca jagad.”
(Barangsiapa memahami aksara kehidupan, ia akan mampu membaca semesta.)
Dalam dunia pendidikan modern yang sering terjebak pada kompetisi, Supriyadi mengajukan pertanyaan provokatif: Apakah kita masih mendidik manusia, atau hanya mencetak pekerja? Apakah pengetahuan kita masih bersumber dari rasa dan kebijaksanaan bumi Nusantara, atau telah tercerabut dari akar kesadaran?
Melalui pendekatan Triguna, harmoni antara pikiran (satwam), tindakan (rajas), dan keseimbangan (tamas), Supriyadi membangun dasar filosofis bagi pendidikan yang berjiwa. Ia menyatukan nilai-nilai kearifan lokal dengan pemahaman universal tentang mindfulness, well-being, dan collective awareness.
Bagi Supriyadi, wellness sejati bukan sekadar kebugaran fisik atau ketenangan batin, melainkan keutuhan eksistensial, saat manusia kembali menyatu dengan nilai, bahasa, dan budaya yang melahirkannya.
Di titik itu, aksara bukan lagi huruf di atas kertas, melainkan energi kesadaran yang menulis ulang sejarah jiwa manusia Nusantara.
“Sangkan paraning urip iku bali marang padhang aksara.”
(Tujuan akhir kehidupan adalah kembali pada terang aksara.)
Maka pendidikan yang ia bangun bukan sekadar tentang membaca buku, melainkan membaca diri dan semesta. Pendidikan menjadi perjalanan pulang: dari ilmu menuju rasa, dari pengetahuan menuju kesadaran, dari aksara menuju cahaya.
Oleh: Supriyadi – Pawiyatan Taman Sesaji Nusantara / Taman Aksara Nusantara Triguna

