Hilirisasi sektor keuangan bukan hanya soal memperkuat industri, tapi juga menghadapi tantangan krusial yang tak bisa diabaikan. Dari tata kelola hingga perspektif investor, inilah tiga tantangan besar yang harus dihadapi bersama.
Jakarta, Chanelindonesia.com – Tantangan dalam hilirisasi sektor keuangan menjadi sorotan utama dalam Indonesia Re International Conference (IIC) 2025 yang digelar di Menara Danareksa, Jakarta. Direktur Utama Indonesia Re, Benny Waworuntu, menegaskan bahwa ada tiga tantangan utama yang harus diatasi untuk memperkuat sektor hilir industri keuangan nasional.
Pertama, masalah tata kelola yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pelaku industri asuransi dan reasuransi nasional. Menurut Benny, pengakuan atas kelemahan tata kelola merupakan langkah awal untuk melakukan pembenahan menyeluruh.
Kedua, soal regulasi yang dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi dinamika industri. Ia menekankan pentingnya regulasi yang tak hanya mengatur, tapi juga mendorong proses bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Ketiga, pandangan investor terhadap industri asuransi yang dinilai belum sepenuhnya memahami bahwa sektor ini bersifat padat modal. Benny mengingatkan bahwa setiap premi harus dijamin dengan kecukupan modal, agar perusahaan mampu membayar klaim di masa mendatang.
Lebih jauh, Benny menyebut bahwa industri asuransi dan reasuransi nasional belum dianggap sebagai risiko sistemik, meskipun beberapa kasus besar seperti Jiwasraya dan AJB Bumiputera menunjukkan dampak sistemik yang nyata. Tanpa penguatan regulasi dan mitigasi risiko, dampak negatif bisa meluas ke sektor perekonomian yang lebih besar.
Selain itu, kapasitas reasuransi dalam negeri yang belum dimanfaatkan secara optimal juga disoroti. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi sumber daya manusia dan modal. Menurutnya, perlu ada kesetaraan aturan (level playing field) antara pelaku industri lokal dan global, baik yang berbentuk joint venture (JV) maupun non-JV.
Sebagai solusi strategis, Benny mengajukan empat langkah penting:
-
Dukungan penuh regulator dalam bentuk regulasi yang memperkuat industri.
-
Perbaikan menyeluruh dari sisi proses bisnis, teknologi, SDM, hingga tata kelola.
-
Penguatan permodalan untuk memperbesar kapasitas menanggung risiko.
-
Kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk menjaga integritas dan keberlanjutan sektor.
“Karena itu kita semua berkumpul di forum ini, untuk berdiskusi dan berkolaborasi mendorong kemajuan industri asuransi dan reasuransi Indonesia,” tutup Benny dalam konferensi yang dihadiri pelaku industri, regulator, dan stakeholder lainnya.
Sumber: Infopublik.id

