Kabar baik bagi eksportir Indonesia: tarif impor Amerika Serikat terhadap produk nasional resmi turun signifikan. Pemerintah langsung tancap gas dengan menggelar sosialisasi ke pelaku usaha dan asosiasi.
Jakarta, Chanelindonesia.com – Penurunan tarif impor Amerika Serikat terhadap produk asal Indonesia menjadi angin segar bagi dunia usaha. Setelah melalui negosiasi panjang di tingkat kepala negara, tarif yang semula mencapai 32 persen kini dipangkas hingga 19 persen. Indonesia menjadi negara pertama yang mencapai kesepakatan setelah pernyataan resmi dari pemerintah AS bulan Juli lalu.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah langsung bergerak cepat. Sosialisasi digelar di Kantor Kemenko Perekonomian kepada para pelaku usaha dan asosiasi, guna menjelaskan kebijakan tarif resiprokal yang akan berlaku mulai 1 Agustus mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, tarif baru ini merupakan yang terendah di kawasan ASEAN. Negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina masih dikenai tarif 20 persen, sementara Malaysia 25 persen, dan Myanmar-Laos bahkan hingga 40 persen. Dibandingkan pesaing komoditas tekstil, Indonesia juga lebih kompetitif dibanding Bangladesh (35%), Sri Lanka (30%), hingga India (27%).
Selain tarif, berbagai hambatan non-tarif juga telah diselesaikan dalam kesepakatan terbaru ini. Rincian lengkap akan diumumkan dalam joint statement resmi antara kedua negara.
Airlangga juga menegaskan bahwa pembelian produk asal AS seperti gandum, kedelai, dan energi tidak akan membebani neraca perdagangan. Sebab, impor tersebut hanya menggantikan negara pemasok sebelumnya dan memang sudah dibutuhkan oleh Indonesia.
Manfaat jangka panjang dari penurunan tarif ini sangat strategis. Ekspor Indonesia makin kompetitif di pasar AS dan Eropa, terutama pada sektor minyak sawit dan industri padat karya. Sekitar 1 juta tenaga kerja disebut bergantung pada keberlangsungan sektor ini.
“Kalau kebijakan ini tidak disepakati, satu juta pekerja bisa terdampak. Jadi ini bukan sekadar soal perdagangan, tapi soal ketahanan ekonomi nasional,” ujar Airlangga.
Sosialisasi ini turut dihadiri perwakilan dari Dewan Ekonomi Nasional, sejumlah wakil menteri, lembaga pemerintah, BUMN, serta asosiasi pelaku usaha. Pemerintah berharap pemahaman yang utuh terhadap kebijakan baru ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.
Sumber: Infopublik.id

