Suasana pagi yang biasanya tenang di Sekolah Rakyat UNESA berubah menjadi penuh haru dan inspirasi. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) datang, bukan hanya untuk melihat, tapi duduk bersama para siswa, menyantap sarapan, dan mendengarkan kisah hidup mereka yang penuh perjuangan.
SURABAYA, Chanelindonesia.com – Suasana hangat dan penuh makna menyelimuti pagi hari di Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 (SRMA21) di kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Selasa (22/7). Menteri Sosial Saifullah Yusuf, akrab disapa Gus Ipul, hadir secara langsung dan menyapa 100 siswa yang tengah sarapan bersama.
Kedatangan Gus Ipul pada pukul 06.30 WIB disambut langsung oleh Rektor UNESA, Prof. Nurhasan, dan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiyani. Ia langsung duduk di ruang makan, menyatu dengan para siswa yang menikmati sarapan bergizi sederhana: nasi, sayur, daging, telur, dan buah.
Di sela santapan, Gus Ipul berdialog dengan beberapa siswa. Salah satunya Revan Putra, bocah dari keluarga sederhana yang tinggal bersama neneknya. Ayahnya seorang kurir surat dengan penghasilan tak menentu, namun Revan menceritakan kisahnya dengan bangga.
“Saya senang sekolah di sini. Banyak teman baru, pengalaman baru,” ujar Revan lirih namun mantap. Ungkapan polos itu membuat Gus Ipul terdiam sejenak sebelum menyemangati siswa lain, “Orang tua kalian adalah pejuang. Jangan malu. Setiap rupiah yang mereka dapat adalah untuk masa depan kalian.”
Kisah mengharukan juga datang dari Siti Hafizah. Gadis kecil ini menitikkan air mata saat bercerita tentang ayahnya yang bekerja mencuci kontainer. “Sehari ayah hanya dapat dua puluh ribu. Saya punya adik juga,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Gus Ipul menguatkannya, “Kamu harus bangga. Ayahmu pejuang. Kerja kerasnya adalah agar kamu bisa duduk di sini.”
Di akhir kegiatan, Gus Ipul menyampaikan kabar menggembirakan: seluruh siswa Sekolah Rakyat UNESA berpeluang melanjutkan kuliah di kampus tersebut dengan beasiswa penuh.
“Dulu banyak yang merasa mimpi hanya untuk orang berpunya. Sekarang tidak lagi. Di Sekolah Rakyat, mimpi kalian mulai ditulis ulang,” tandasnya.
Sarapan pagi itu menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Ia berubah menjadi simbol harapan, ketulusan, dan keyakinan bahwa perjuangan para orang tua tidak sia-sia. Di balik setiap sendok nasi yang disantap, terselip cerita, dan impian besar yang sedang tumbuh.
Sumber: Kemensos

