ChanelIndonesia.com, Jakarta — Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Rizki Handayani Mustafa, menegaskan bahwa investasi pariwisata masa depan harus berorientasi pada keberlanjutan dan inklusivitas, bukan sekadar pembangunan fisik.
Hal ini disampaikan dalam forum Indonesia Tourism Outlook 2025 bertema “Navigasi Menuju Pariwisata yang Lestari, Berdaya, dan Menguntungkan” di Jakarta, Rabu (29/10/2025).
“Kita tidak anti terhadap investasi besar, tapi yang kita dorong adalah investasi yang memberi dampak luas — bukan hanya membangun hotel atau resort, melainkan memberdayakan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata,” tegas Rizki Handayani.
Investasi Pariwisata Terus Tumbuh
Menurut Rizki, nilai investasi sektor pariwisata terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejak 2009, total investasi tercatat mencapai sekitar Rp350 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan Rp70 triliun per tahun, dan lebih dari 50 persen di antaranya mengalir ke 10 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Namun, ia menegaskan bahwa kemajuan pariwisata tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk.
“Pertanyaannya bukan seberapa besar nilai investasinya, tetapi bagaimana dampaknya terhadap masyarakat sekitar destinasi. Investasi harus bisa menghidupkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Fokus Investasi: Marine, Gastro, dan Wellness Tourism
Kemenpar kini memprioritaskan tiga sektor strategis yang dinilai paling potensial dan inklusif, yaitu:
-
Marine Tourism (Wisata Bahari)
Rizki menyebut wisata bahari sebagai sektor dengan prospek besar untuk mendorong ekonomi daerah, tetapi pengembangannya harus selaras dengan konservasi alam.
“Kita tidak ingin membangun destinasi besar-besaran tapi justru merusak ekosistem laut. Marine tourism harus tumbuh dengan semangat konservasi dan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya. -
Gastro Tourism (Wisata Kuliner)
Kemenpar mendorong penguatan rantai pasok kuliner dari hulu ke hilir, di mana bahan baku khas daerah diambil langsung dari petani dan produsen lokal.
“Wisata kuliner tidak akan berkembang tanpa petani lokal. Karena itu, gastronomi harus terhubung dengan pertanian, budaya, dan ekonomi kreatif masyarakat,” kata Rizki yang akrab disapa Kiki. -
Wellness Tourism (Wisata Kebugaran dan Kesehatan)
Indonesia memiliki potensi besar dari kearifan lokal dan warisan pengobatan tradisional. Konsep medical wellness resort menjadi fokus investasi baru.
“Wellness di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari budaya. Inilah kekuatan yang bisa menarik investor dan wisatawan kelas dunia,” jelasnya.
Dorong Pembiayaan Inklusif dan Hijau
Rizki menjelaskan bahwa Kemenpar kini mengembangkan dua fokus utama untuk memperkuat sektor investasi:
-
Manajemen Investasi Fisik, yaitu memetakan wilayah potensial dan mempertemukan proyek dengan investor, baik lokal maupun asing.
-
Pengembangan Usaha dan Akses Pembiayaan, yang membantu UMKM agar terlibat langsung dalam rantai pasok industri pariwisata.
“Kami mencari skema pembiayaan yang inklusif, tidak hanya untuk investor besar, tapi juga pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekosistem wisata,” katanya.
Sebagai bagian dari strategi pembiayaan berkelanjutan, Kemenpar sedang menyiapkan Indonesia Quality Tourism Fund (IQTF) — lembaga pembiayaan hijau (green financing) untuk proyek pariwisata berkelanjutan dan pelaku UMKM.
“Dana ini sedang dalam proses harmonisasi antar kementerian dan akan melibatkan pembiayaan multilateral, bilateral, maupun swasta,” jelas Rizki.
IQTF diharapkan menjadi instrumen baru pendanaan destinasi prioritas dan event tourism di berbagai wilayah Indonesia.
Sumber: Info Publik

