Takengon, chanelindonesia.com — Bencana hidrometeorologi parah yang terjadi sejak awal pekan menyebabkan Kabupaten Aceh Tengah terisolasi total, Kamis (27/11/2025). Hujan berintensitas tinggi memicu banjir bandang, tanah longsor, serta merusak infrastruktur vital yang menjadi jalur penghubung ke berbagai daerah sekitar.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menetapkan Status Siaga Darurat sebagai langkah cepat untuk mempercepat penanganan serta distribusi bantuan bagi warga terdampak. Seluruh akses darat menuju Bireuen, Aceh Utara, hingga Nagan Raya tidak dapat dilalui akibat longsor, banjir, dan rusaknya jembatan serta ruas jalan utama.
Kondisi tersebut membuat pasokan logistik, bahan pangan, dan kebutuhan medis tidak dapat masuk ke daerah. Kekhawatiran kelangkaan kebutuhan pokok pun meningkat seiring bertambahnya jumlah warga yang mengungsi.
Di sisi lain, layanan publik ikut lumpuh. Listrik padam, jaringan internet terputus, dan komunikasi radio pun berjalan terbatas. Situasi ini menyulitkan koordinasi tim penyelamat di lapangan yang masih berupaya mengevakuasi warga dari titik-titik berisiko tinggi.
Data sementara mencatat 15 warga meninggal dunia dan 3.213 keluarga mengungsi ke sejumlah titik aman. Kerusakan rumah, fasilitas publik, serta lahan pertanian masih dalam pendataan dan diperkirakan menimbulkan kerugian besar.
Sekolah Diliburkan, Fokus ke Evakuasi dan Pemulihan
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menerapkan kebijakan meliburkan seluruh aktivitas belajar mengajar sebagai langkah perlindungan, sekaligus memfokuskan sumber daya untuk evakuasi dan penanganan darurat.
Kepala Dinas Kominfo Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menyampaikan bahwa situasi di daerah tersebut berada dalam kondisi yang sangat kritis.
“Aceh Tengah dalam kondisi darurat. Isolasi total telah memutus kami dari bantuan luar, sementara kebutuhan pangan dan medis di pengungsian terus meningkat. Kami memohon bantuan dari pemerintah provinsi, pusat, dan seluruh pihak untuk segera membuka akses dan mengirimkan bantuan secepat mungkin,” ujarnya.
Saat ini, pemerintah daerah memprioritaskan pembukaan jalur utama yang tertutup material longsor dengan mengerahkan alat berat. Di saat yang sama, penyediaan logistik darurat dan pemulihan jaringan komunikasi menjadi fokus utama agar koordinasi bantuan dapat berjalan lebih cepat.
Aceh Tengah sangat membutuhkan dukungan berupa alat berat, logistik makanan dan kebutuhan dasar, tim medis dan obat-obatan, serta relawan SAR untuk memperkuat penanganan darurat. Hingga kini, para petugas gabungan masih bekerja di bawah keterbatasan akses dan cuaca yang tidak menentu.
Bencana besar ini menjadi ujian berat bagi ketangguhan Aceh Tengah dalam menghadapi kondisi alam ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba.
Sumber : InfoPublik

