“Sapa ngerti swara, bakal ngerti rasa; sapa ngerti rasa, bakal ngerti urip.”
(Barangsiapa memahami bunyi, akan memahami rasa; barangsiapa memahami rasa, akan memahami hidup.)
Yogyakarta, Wellnessantara.com – Musik bukan sekadar hiburan; ia adalah getaran kesadaran yang hidup. Setiap nada adalah denyut semesta, setiap bunyi adalah napas kehidupan. Sejak 2005, perjalanan musikal saya bukan hanya tentang teknik dan instrumen, tetapi tentang pencarian makna dan keheningan di balik bunyi.
Dalam setiap denting senar, pukulan ritme, dan tarikan napas vokal, saya belajar bahwa musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia dengan ruang batin paling dalam, tempat di mana kesadaran bernafas.
Sebagai musisi otodidak, saya tumbuh dari keingintahuan dan keterbatasan. Justru dari keterbatasan itulah muncul kebebasan untuk menemukan. Saya belajar bahwa setiap alat musik memiliki roh, setiap instrumen adalah guru. Ketika jari menyentuh senar atau bibir meniup bambu, yang sesungguhnya bergerak bukan hanya tubuh, tapi jiwa yang sedang berbicara dengan alam.
“Urip iku gamelan, saben swara duwe teges.”
(Hidup itu seperti gamelan, setiap bunyi memiliki makna.)
Dalam filsafat Jawa, hidup dipandang sebagai harmoni antara cipta, rasa, dan karsa, tiga daya kesadaran yang menciptakan keseimbangan. Musik bagi saya adalah latihan spiritual untuk menyatukan ketiganya:
cipta sebagai niat dan kreativitas, rasa sebagai kepekaan dan empati,karsa sebagai energi tindakan yang menyalakan semesta kecil di dalam diri.
Dalam konteks akademik, konsep ini sejalan dengan teori aesthetic consciousness dan embodied cognition, yang melihat musik bukan sekadar struktur suara, tetapi pengalaman tubuh dan pikiran yang menyatu.
Neuroestetika modern menyebut bahwa musik mampu mengaktifkan area otak yang berkaitan dengan emosi, memori, dan spiritualitas, menjadikannya medium alami untuk healing dan self-integration.
Namun jauh sebelum itu, para leluhur Nusantara telah memahami bahwa bunyi adalah doa, getaran yang mampu menata ulang keseimbangan antara jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makrokosmos).
Melalui kolaborasi lintas disiplin dan eksplorasi instrumen, saya berusaha membuka ruang bagi musik sebagai praktik kesadaran. Bahwa setiap penampilan bukan sekadar pertunjukan, tetapi laku batin, perjalanan untuk menyentuh wilayah “suwung”, keheningan yang hidup.
Dalam keheningan itu, musik berhenti menjadi milik saya; ia menjadi milik ruang, milik pendengar, milik semesta yang mendengarkan dirinya sendiri melalui saya.
“Suwung iku dudu ora ana, nanging papaning anane.”
(Keheningan bukanlah ketiadaan, melainkan ruang keberadaan itu sendiri.)
Musik, dalam pandangan saya, bukan soal genre atau bentuk, tetapi tentang resonansi, sejauh mana bunyi itu menyentuh dan mengubah kesadaran. Karena sejatinya, wellness dalam musik bukan berarti ketenangan tanpa gangguan, melainkan kemampuan untuk mendengar segala sesuatu apa adanya. Ketika tubuh menjadi resonator, ketika pikiran berhenti menilai, ketika suara dan kesadaran melebur menjadi satu, di sanalah manusia menemukan keseimbangannya.
“Sapa bisa ngrungokake swara jagad, bakal ngerti swara atine dhewe.”
(Barangsiapa mampu mendengar suara alam semesta, akan mendengar suara hatinya sendiri.)
Bagi saya, seni dan kesadaran adalah dua sisi dari satu getaran. Seni adalah bentuk, kesadaran adalah nyawanya. Musik adalah jembatan di antara keduanya, tempat di mana rasa menjadi nyata dan kenyataan menjadi rasa.
Dan mungkin, dalam setiap getaran itu, manusia sebenarnya sedang belajar pulang — bukan ke tempat, tetapi ke kesadaran semula, ke titik diam di mana semua nada bermula dan berakhir.
“Sangkan paraning swara iku bali marang suwung.”
(Asal dan tujuan bunyi adalah kembali ke keheningan.) (Ist)

