Surabaya, ChanelIndonesia.com – Prestasi membanggakan diraih Aidatul Fitriyah, alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), dalam ajang 3rd International Article Writing Competition (IAWC) yang diselenggarakan oleh Multimedia University (MMU), Selangor, Malaysia.
Kompetisi ini diikuti peserta dari berbagai negara di kawasan Asia dan terbagi dalam tiga kategori: mahasiswa sarjana, pascasarjana, dan umum. Afriya, sapaan akrabnya, bersaing dalam kategori umum, yang ditujukan untuk praktisi akademik lintas negara. Tak tanggung-tanggung, ia mengikutsertakan dua tim riset dan keduanya berhasil menyabet juara.
Pada kategori Language and Communication, tim pertama yang ia pimpin bersama Ahmad Harith Irfan bin Hamdan, alumni University of Malaya, berhasil meraih juara pertama. Sementara pada kategori Media Criticism, tim kedua yang dibentuk bersama Ahmad Dailami Fadhil, mahasiswa Université Sidi ben Abdellah, Maroko, berhasil meraih juara dua.
Kedua tim riset tersebut menganalisis serial film “Bidaah”, yang dinilai merepresentasikan penyimpangan agama dalam komunitas tertutup. Meski objek kajiannya sama, kedua riset menggunakan pendekatan yang berbeda.
“Riset pertama menggunakan teori Critical Discourse Analysis Fairclough untuk menelaah bahasa, simbol, dan visual sebagai alat dominasi ideologis. Sementara riset kedua menggunakan pendekatan teologi Islam dan fikih untuk membongkar doktrin penyimpangan agama,” jelas Afriya, Wisudawan Berprestasi Unair 2024, saat ditemui di Surabaya, Jumat (25/7/2025).
Afriya mengaku, motivasinya lahir dari kegelisahan atas praktik penyimpangan agama yang kerap luput dari kritik terbuka. Film, menurutnya, dapat menjadi medium populer yang efektif untuk membongkar bagaimana kekuasaan simbolik bekerja dalam spiritualitas.
“Ini bukan hanya soal agama yang direpresentasikan, tapi bagaimana agama digunakan untuk menundukkan nalar, tubuh, dan kehendak manusia,” tegasnya.
Riset dilakukan melalui analisis tekstual dan visual yang mendalam, dengan tantangan koordinasi tim lintas negara dan lintas disiplin. Meski kompetisi dilakukan daring, kerja kolektif tetap dijaga intensitasnya.
Afriya berharap hasil risetnya tidak hanya berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi mampu menjadi bagian dari wacana kritis publik. Menurutnya, keberanian berpikir kritis adalah bentuk keberpihakan kepada yang tertindas.
“Capaian ini bukan soal prestise, tapi validasi atas keberanian intelektual untuk menggugat ketidakadilan yang dibungkus simbol keagamaan,” pungkasnya. (Yuli)

